Share
here's to the guy i fell in love with,
here's to the guy who gave me butterflies everytime,
here's to the guy who i couldn't get out of my head,
here's to the guy who said the perfect things,
here's to the guy who kept my darkest secrets,
here's to the guy who whispered i love you,
here's to the guy that made my world,
here's to the guy who was my everything,
here's to the guy who made my heart beat,
here's to the guy who said he wouldn't hurt me,
here's to the guy who broke my heart.
surat wasiat Charlie Chaplin kepada putrinya Geraldine Chaplin
Diposting oleh
Rasti Sasmita
on Minggu, 01 Mei 2011
/
Comments: (0)
Share
Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam keheningan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar.
Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah.
Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah Ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa.
Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.
Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku.
Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London.
Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya.
Aku juga merasakan bahwa urang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.
Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu.
Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.
Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka".
Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu.
Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu.
Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu.
Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.
Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu.
Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.....
Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain.
Dan aku akhiri suratku ini dengan,
"Jadilah manusia, suci dan satu hati, karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".
soul-hurt
Diposting oleh
Rasti Sasmita
on Selasa, 01 Maret 2011
/
Comments: (0)
Share
have you ever been in love? Horrible isn't it?
it makes you so vulnerable.
it opens your chest and it opens up your heart
and it means that someone can get inside you
and mess you up
you build up all these defense.
you build a whole suit of armor.
so that nothing can hurt you..
..then one stupid person, no different from any other stupid person,
wanders into your stupid life
you give them a piece of you, they didn't ask for it.
they did something dumb one day,
like kiss you or smile at you,
and then your life isn't your own anymore
love takes hostages.
it gets inside you,
it eats you out and leaves you crying in the darkness..
so simple a phrase like 'maybe we should be just friends'
turn into a glass splinter working its way into your heart.
it hurts.
not just in the imagination.
not just in the mind.
it's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart
pain.
have you ever been in love? Horrible isn't it?
it makes you so vulnerable.
it opens your chest and it opens up your heart
and it means that someone can get inside you
and mess you up
you build up all these defense.
you build a whole suit of armor.
so that nothing can hurt you..
..then one stupid person, no different from any other stupid person,
wanders into your stupid life
you give them a piece of you, they didn't ask for it.
they did something dumb one day,
like kiss you or smile at you,
and then your life isn't your own anymore
love takes hostages.
it gets inside you,
it eats you out and leaves you crying in the darkness..
so simple a phrase like 'maybe we should be just friends'
turn into a glass splinter working its way into your heart.
it hurts.
not just in the imagination.
not just in the mind.
it's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart
pain.







